Cerpen: TETAPKAH KAU SAHABATKU


                “Lia, ikut gue yuk ntar pulang sekolah,” ajak Haru, teman kecilku yang lucu dan selalu bisa dijadikan tempat apapun. “Mau ke mana emang? Hari ini Juno ngajak gua pergi, kan ini 14 Februari,” ujarku sambil mengedipkan mata dan tersenyum padanya. Dia tampak diam saja. Tumben, biasanya dia akan bicara lebih banyak lagi dibandingkanku saat aku mulai berbicara tentang Juno. “Batalin deh,” ujarnya sekenanya. “Lo kenapa sih? Lo tau kan kalo gue udah lama banget suka sama Juno. Mumpung ada kesempatan bagus kayak gini, kok lo gak dukung gue sih?” kali ini aku mulai nyolot. Ada apa dengannya?
                “Kalo gitu, setelah lo pulang dari jalan bareng dia, lo harus nemuin gue ya,” pintanya, kali ini dengan nada yang lebih riang. Ya, untuk mengimbangi kata-kataku tadi. Untuk menghilangkan hawa tidak enak tadi. “Oke,” jawabku tak kalah riang. Kemudian dia berlalu meninggalkan kelasku dan tepat saat itu, bel masuk berbunyi.
                Entah kenapa, sejak istirahat tadi pikiranku masih belum bisa lepas dari Haru. Dia terlihat aneh memang, dan walaupun tadi dia menanggapiku dengan riang, tapi masih ada atmosfer tidak senang yang kurasakan. Aku tidak konsen lagi. Ingin lihat bagaimana reaksinya nanti. Apa dia akan mengunjungiku lagi di istirahat kedua? Dan bagaimana dengan pulang sekolah nanti? Apa dia akan menggodaku yang akan jalan dengan Juno?
                Benar saja. Istirahat kedua ini dia tidak datang menemuiku. “Hei,  kenapa melamun?” ujar Juno tiba-tiba. Deg! Aku kaget tiba-tiba dia sudah ada di sampingku. Aku bisa merasakan betapa jantungku berdetak hebat. Juno, orang yang kusuka selama ini, akhirnya bisa juga menanggapiku. Ini semua sebenarnya juga berkat pertolongan Haru. Dialah yang memberitahukan aku tentang bagaimana membuat Juno melirikku.
                “Eh, enggak kok. Aku gak apa-apa,” jawabku. Dia tersenyum, manis sekali. “Nanti jadi kan, Li?” tanyanya meyakinkanku. Aku senang sekali mendengarnya. Mau berapa kali pun diingatkan, aku pasti akan sangat senang. “Iya,” jawabku sambil mengangguk kecil. Dia kemudian berlalu dariku dan kembali bergabung pada teman-temannya.
                Aku masih belum bisa melupakan Haru. Akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Di dekat mading, aku melihat Haru bersama teman-temannya. Mereka tampak mengobrol. Aku bimbang. Antara mendatanginya atau tidak. Tapi, sudahlah. Aku tidak boleh menjadi kikuk dan aneh begini.
                “HARU!!” teriakku dan berlari kecil menghampirinya. Dia terlihat canggung. Ya, mungkin karena aku melakukan hal ini di depan teman-temannya. “Kok gak ke kelas gue sih?” tanyaku dengan ekspresi riang seperti biasanya. Dia diam saja, malu. Teman-temannya sudah grasak-grusuk melihat kami. Aku tahu, seperti aku ini pacarnya yang harus dikunjungi setiap saat, makanya mereka heboh. Tapi aku cuek saja. Aku tahu aku ini sahabat Haru.
                “M.. maaf Li. Tadi aku diajak mereka ke kantin, jadi gak sempat ke kelas lo. Lagian ada PR nih, gue harus buru-buru,” jawab Haru. Dia terkesan menghindariku. Tapi, mungkin saja memang dia ada PR. Dia kan memang begitu, suka tidak peduli dengan PR-PR nya. Tanpa bilang dah, atau yang lainnya, dia berlalu begitu saja disusul teman-temannya. Aneh, wajahnya tadi juga terlihat kaku. Tidak seperti biasanya.
                Pulang sekolah, aku langsung pergi dengan Juno. Sebenarnya aku ingin sekali menunggu Haru dan mengucapkan beberapa kata. Entah apa, yang jelas, tadi itu sepertinya tidak menyenangkan sama sekali. Padahal aku ingin sekali setelah ini bicara banyak dengannya. Aku ingin sekali menceritakan pengalamanku bersama Juno hari ini. Tapi, kenapa dengannya? Dia aneh sekali hari ini.
                “Ada yang ditunggu lagi, Li?” tanya Juno. Dia mungkin melihat ekspresi tidak tenang di wajahku. “Eh? Em, gak kok. Ya udah, kita jalan aja,” ujarku bohong. Sudahlah. Mungkin dia sedang tidak mood saja. Yang jelas, aku harus menikmati hariku dengan Juno. Orang yang selama ini aku sukai dan aku harapkan untuk menjadi pacarku.
                Hari ini terasa sangat panjang sekali bagiku. Ini bagaikan hari yang paling menyenangkan di hidupku. Hari yang tidak mungkin terjadi dua kali. Aku dan Juno. Kami makan bersama, nonton, jalan-jalan di taman, dan menikmati indahnya matahari terbenam bersamaan, duduk di bentaran pasir yang sangat indah. Dan di tempat terakhir itu, aku mendapat kejutan yang luar biasa.
                “Li, aku punya sesuatu untuk kamu,” ujar Juno. Aku menatapnya, menunggu sesuatu itu apa. Angin sangat kencang di pantai ini, aku bisa merasakan rambutku yang diterpa kuat oleh angin. Dan rambutnya yang juga ikut melambai-lambai, menambah kegantengan cowok ini. Aku semakin deg-degan dibuatnya. “Ini,” ujarnya sambil menyerahkan sebuah kotak kecil.
                “Ini apa?” tanyaku kikuk. Aku bisa merasakan betapa hangatnya pipiku di cuaca dingin dengan angin yang bertiup kuat ini. “Buka aja,” jawabnya misterius. Aku tersenyum kecil mendengarnya, dan menurutinya membuka kotak itu. Betapa terkejutnya aku! Aku senang bukan main. Itu liontin yang sangat cantik. “Aku pakaiin, ya?” tawarnya. Aku mengangguk senang. Dan dia mengalungkan liontin itu ke leherku. Rasanya senang sekali.
                “Li,” panggilnya setelah dia memakaikan liontin itu padaku. “Ya?” jawabku yang mulai agak canggung. “Ehem,” aku mendengarnya berdehem. Aku semakin penasaran. “A.. aku,” kali ini dia memulai dengan agak gugup. Aku tidak berani melihat ke arahnya. “Aku suka kamu, Li. Boleh gak aku jadi pacar kamu?” tanyanya.
                Aku kaget bukan main. Aku menoleh ke arahnya. Dia menatap ke depan sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ekspresi mukanya sangat lucu, tegang, dan cemas. Aku belum bisa melepaskan pandanganku hingga akhirnya dia balik menoleh ke arahku. Kemudian dengan wajah tenang, dia bertanya lagi padaku, “Jadi? Gimana, Li?” aku tidak bisa berkata apa-apa. Ingin sekali aku berteriak IYA, tapi tidak mungkin. Akhirnya aku hanya mengangguk dan menunduk. “I.. iya,” jawabku lemah, tapi sangat yakin.
                Dia teriak senang mendengarnya. Aku tertawa melihat tingkah konyolnya. Kemudian kami tertawa bersama. Ini terlihat sangat sulit dan panjang. Melelahkan, tapi sekaligus hal terindah yang aku pernah rasakan. Aku sangat tidak sabar ingin menceritakannya pada Haru. Dia pasti akan senang. Karena ini semua berkat dia juga. Aku sudah menyiapkan diriku kalau harus diminta traktir nanti. Aku tersenyum senang memikirkannya.
                Juno mengantarkanku pulang untuk yang pertama kalinya sebagai seorang pacar. “Makasih, ya,” ujarnya saat kami sampai di depan rumahku. “Untuk apa?” tanyaku. “Untuk hari yang indah ini,” jawabnya puitis. Aku tertawa kecil mendengarnya. “Ya udah, kamu cepet pulang, gih. Udah malem,” ujarku. Rasanya senang sekali bisa mengatakannya. “Daah... sayang,” ujarnya canggung. Masih terasa aneh mungkin. Aku hanya bisa tersenyum dan melambai ke arahnya dan diapun berlalu.
                Belum masuk ke rumah, aku dikejutkan dengan kehadiran Haru. “Hei! Dari tadi lo di situ?” tanyaku saat melihatnya berdiri di halaman rumahnya, yang tepat di samping rumahku. Mungkin dia sempat memerhatikan kami tadi. Wajahnya terlihat datar. Aneh juga, entah kenapa, itu wajah terseram yang pernah aku lihat darinya. “Mau ke taman sebentar?” ajaknya. Agak terasa dingin, tapi aku mengangguk senang dan mengikutinya.
                Kami sampai di taman tanpa bicara sepatah katapun. “Li,” ujarnya lirih. Aku hampir tidak mendengarnya. Aku mencondongkan tubuhku untuk bisa mendengarnya. “Gak usah deket-deket,” ujarnya. Kami kemudian tertawa kecil. “Ada yang mau gue omongin, Li,” kali ini suasana dingin itu sudah mulai mencair. “Apa? Cerita aja, gue juga mau cerita banyak,” ujarku santai.
                “Gue suka sama lo,” ujarnya. Deg! Tiba-tiba keadaan santai yang kurasakan tadi menghilang menjadi kecemasan, khawatir, dan bingung. “Dari dulu, Li. Entah kenapa lo gak bisa sadar,” sambungnya. “Ta, tapi kan lo sendiri yang ngebantuin gue deket sama cowok,” ujarku sedih bercampur emosi. Rasanya aku sudah hampir menangis. Entahlah, aku merasakan perasaan yang tidak enak. “Harusnya lo tau, maksud gue ngomong gitu tuh, supaya lo sadar, siapa sebenernya yang udah ngelakuin hal itu ke lo? Dan itu artinya orang itu suka sama lo. Dan itu gue,” ujarnya lagi. Aku pusing, bingung sekali menanggapinya.
                “Tapi, aku dan Juno... kami sudah...” “Gue udah tahu,”potongnya. “Gue liat kalian tadi,” sambungnya. “Tapi, kenapa Ru? Kenapa lo masih ngomong kayak gini sama gue?” tanyaku tidak habis pikir. Kali ini dia tersenyum. “Gue cowok, Li. Gue harus berani dan gak sembunyi-sembunyi terus,” jawabnya. “Apapun yang terjadi, yang penting lo udah tau sekarang. Dan itu yang gue mau. Lo tau perasaan gue,” sambungnya lagi. Aku kaget mendengarnya. Gak nyangka, Haru bakal ngomong begitu.
                “Lagipula, kami sekeluarga mau pindah, Li. Papa dipindah tugas ke Pontianak,” ujarnya lagi. “Apa?” tanyaku tidak percaya. Rasanya dadaku sesak. Sakit sekali. Kenapa aku harus baru tahu sekarang? Setelah kejadian ini? “Gue juga baru tahu seminggu yang lalu kok, Li. Tapi gak pernah ada waktu yang pas buat ngomong sama lo. Dan semua urusan pindah juga udah selesai. Besok, jam 6 pagi, kami udah berangkat ke bandara,” ujarnya tenang, tapi membuat dadaku semakin sesak.
                “Gimana kalo kita gak usah tidur aja sampai besok lo berangkat? Lo tidur di pesawat aja bisa kan?” pintaku konyol. “Bego lo! Gue sih bisa-bisa aja, tapi lo kan besok sekolah,” ujarnya becanda. Dia tertawa kecil. Tawa yang dipaksakan. Ya, dia ingin membuatku tenang. Meskipun aku orang yang sudah menolaknya. “Jadi?” tanyaku. “Ya, lo pulang sana, tidur. Besok pagi bangun, ke sekolah,” ujarnya ringan. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Rasanya aneh setelah menolak cintanya, aku harus menahannya untuk tidak pergi.
                “Ya udah deh, pulang yuk. Ntar gue diomelin lagi, bawa anak gadis orang sampe malem gini,” ujarnya dengan gaya khasnya yang suka bercanda. Ini Haru yang sedaritadi kurasakan hilang. Entah bagaimana perasaan hatinya, dengan tidak tahu diri, malah aku yang menangis di hadapannya karena dia akan pergi. Dia merangkulku dan menuntunku pulang. “Kalo ditanya kenapa nangis, jangan bilang karena gue ya,” ujarnya bercanda lagi. Aku tertawa mendengarnya dengan air mata masih mengalir. Dia berpamitan pada Papaku yang membukakan pintu untukku. Beliau mungkin bisa memaklumi aku yang menangis, dan kenapa semalam ini aku baru pulang, dan ada Haru di depan rumah.
                Sebelum pulang, aku sempat mendengar mereka ngobrol sebentar, sementara aku terus berlalu menuju kamarku di lantai atas. Aku sempat mendengar Papa bilang untuk baik-baik di sana. Ya, sepertinya di rumah ini cuma aku yang telat tahu.
                Alarm aku set lebih awal. Jam 5 pagi, aku sudah bangun dan menatap ke luar jendela. Dari sini aku bisa melihat ke halaman rumah Haru. Aku bisa melihat keluarganya berlalu lalang mengangkat barang dan terlihat sibuk. Ingin rasanya aku berlari ke sana dan bertemu dengan mereka untuk terakhir kalinya.
                Aku terus saja termangu di depan jendelaku melihat mereka, terutama Haru. Dia tidak menyadariku yang sedaritadi mengawasinya di sini. Sudah 1 jam, dan mereka pun pergi. Pergi untuk waktu yang lama. Dan aku pun menyadari satu lagi kebodohanku. Aku menangis menyesalinya. Karena, bahkan akupun belum mengatakan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya. Aku ragu akan satu pertanyaan. Pertanyaan yang masih belum bisa kujawab sendiri.

THE END

Komentar

Postingan Populer