Cerbung: A HEART WARMING (Part 1)
Aku melirik lelaki yang sedang
memainkan gitarnya yang ada di seberangku itu. Huh. Aku bukanlah lingkungannya.
Aku bukan gadis populer yang bisa masuk pergaulannya. Ditambah lagi aku bukan
anak gaul. Yang tongkrongannya di mall atau café mewah. Tapi dia? Ia seorang
lelaki yang didambakan setiap orang.
Melihatnya seperti ini sekarang, aku jadi ingat akan satu hal.
"Wahai baginda putri apa yang terjadi pada wajah indahmu? Mengapa berduram durja?" Tanyaku pada gadis cantik di depanku itu.
"Gue gak kenapa-napa, kok,"
jawabnya dengan senyum indah di wajahnya.
"Oh putri, apakah hamba kurang
setia untuk dijadikan kaki tangan mu? Ceritalah pada hamba. Hamba tahu sesuatu
telah terjadi," ujarku lagi. Aku tidak akan tertipu oleh senyumannya. Aku
tahu kalau dia ada masalah. Oh ya, mengapa aku memanggilnya putri begitu? Ia
seorang belasteran. Ayahnya masih orang Inggris asli. Ia berharap suatu saat
akan menjadi putri raja di kerajaan. Lucu memang. Impiannya klasik dan polos.
"Apa deh lo. Males banget gue
denger lo ngomong gitu," ujarnya dengan wajah masam sekarang.
"Cerita dong. Gue tau lo ada
masalah," aku mendekatkan diriku. Duduk di sebelahnya. Walaupun ia selalu
terlihat ceria, aku yang sudah 5 tahun menjalin persahabatan dengannya tidak
akan tertipu.
"Lo tahu kan gue sayang sama
lo?" Litta, ia memulai percakapan ini seolah ingin membuatku bergidik
ngeri.
"Lo kenapa sih. Geli gue,"
ucapku padanya.
"Kalo misalnya setiap malem lo
keinget terus dengan seseorang, merasa cemburu kalo dia deket dengan orang
lain, itu artinya apa?" Tanya Litta padaku tiba-tiba.
"Lo nggak ngerasain itu ke gue,
kan?" Aku mencandainya.
"Mati aja lo sana!" Ujarnya
lagi dengan muka cemberut.
"Siapa sih? Lo lagi suka siapa,
Lit?" Aku menggodanya. Mukanya terlihat memerah. Menahan malu dan takut.
"Kayaknya sih... Dean,"
Deg! Aku rasanya seperti disengat listrik. Itu tadi benar-benar tidak bisa dipercaya. Dean. Lelaki terpopuler di sekolah. Lelaki yang aku sukai selama 2 tahun terakhir ini. Aku terdiam saja. Mencoba untuk terlihat tenang. Aku tidak mungkin mengatakan ini pada Litta. Aku mengenal Litta. Dia harus mendapatkan keinginannya. Dia akan terus terobsesi pada sesuatu dan terlihat egois dalam mengejar impiannya. Untungnya memang selama 5 tahun ini tidak sekali pun aku dan Litta punya satu hal yang kami perebutkan. Kebanyakan kami memiliki selera yang berbeda. Dari segi warna misalnya. Aku penyuka pink, dan Litta ungu. Jadi saat membeli barang yang sama, kami tidak perlu berebut untuk warna yang sama pula.
Tapi kali ini, Litta benar-benar membuatku kebingungan. Tidak satu pun dari mantannya yang punya kriteria seperti Dean. Bagaimana caranya ia meyukai Dean? Meskipun populer, Dean termasuk good guy. Kriteria lelaki Litta yang aku kenal selama ini adalah bad boy. Litta tidak terlalu menyukai musik sepertiku. Apa yang membuatnya jatuh hati pada Dean? Dan knapa harus Dean? Lelaki seperti itu, ada banyak di luar sana yang lebih dulu dikenal Litta.
Yup begitulah ingatanku setiap kali melihat Dean. Aku tidak habis pikir dengan yang pernah diucapkan Litta itu.
"Apa kabar lo?" suara yang
tak asing itu datang dari sbebelah kiriku. Litta, yang sekaligus juga menjadi
teman sebangkuku, menghampiriku yang sedaritadi bengong memikirkan kenyataan.
"Ngapain nanya kabar sih,
elah!" aku sengaja memasang muka masamku padanya.
"Habisan lo gue ajak ke kantin
mager mulu. PMS lo?" selidiknya sambil mengunyah beberapa keripik.
Aku mengambil beberapa keripik dari tangannya. Pikiranku agak kacau. Rasanya ini tidak benar. Kenapa aku harus menyimpan semuanya sendiri dalam hati sih? Sebenarnya, aku rasa tidak ada salahnya untuk mengakui semuanya. Toh aku pun punya bukti yang bisa kutunjukkan pada Litta kalau aku menyukai Dean jauh sebelum ia menyukai Dean. Ya ya, aku memang gadis yang agak menakutkan seperti itu. Aku sering menyimpan fotonya, menyetaknya, merangkai jadi sesuatu yang indah, yang aku simpan di tempat rahasia yang tidak satupun pernah menyadarinya. Bahkan tidak dengan Litta. Aku merasa ini adalah rahasia terbesar dalam hidupku, bahkan sampai-sampai aku tidak mengatakannya pada Litta. Orang yang tidak pernah aku coba untuk menutup-nutupi sesuatu darinya.
"Menurut lo, Dean gimana?" Pufft! Apa-apaan sih dia ini? Kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?
"M...maksud lo gimana?"
tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Ya, soalnya waktu pertama kali
gue bilang sama lo kalo gue suka sama Dean, lo cuma diam aja. Gak ada
tanggapan yang gue harapkan," jawabnya agak lemah.
"Baiklah Tuan Putri, apa yang Yang
Mulia harapkan hamba katakan? Bilang kalo dia itu emang perfect? Gantengnya
kebangetan? Pinter banget, jago main musik banget, dambaan setiap wanita
banget? NO! BIG NO! Ya maksud gue dia emang sih, pinter banget, jago main musik
banget, bahkan jago olahraga. Liat aja tuh badannya bagus gitu. Sekilas dia emang
perfect, tapi ya... gak sampe bikin gue jatuh cinta gitu deh. Gak banget masa
selera gue mainstream banget. Gue gak mau ah ikut-ikutan suka sama dia. Selain
banyak banget saingannya, dia terlalu biasa. Gue yakin pacaran sama dia gak ada
greget-gregetnya sama sekali. So, yah~ gak deh buat muji-muji dia sampe kayak
ngefans banget gitu." Huft! Rasanya ini cukup untuk meyakinkan Litta
kalau aku memang gak ada perasaan apaapun padanya.
"Ah...halo? Ini masih Gal yang gue
kenal?" tanyanya sok serius. Kenapa? Memangnya ada yang salah sama
jawabanku? "Galatia yang gue kenal kayaknya emang suka sama hal-hal
mainstream, deh. Gue inget lo pernah suka sama Bobby si ketua kelas pas SMP
yang punya kesan cowok baik-baik banget yang perfect. Bukannya Dean juga punya
kesan kayak gitu ya?" tambahnya lagi. Deg! Apa aku tadi memang terlalu
berlebihan, ya mendeskripsikan rasa tidak suka ke Dean?
"Yah, tapi emang itu terserah lo
sih. Mau suka ke siapa, suka sama apa. Gue cuma berharap, setidaknya sekaliii
aja, kita punya sesuatu yang bener-bener kita sukai sama-sama. Lagian, kayaknya
seru ngecengin orang yang sama bareng sahabat, Ya gak sih? Gue pengen gitu
sebenernya."
Ngaco! LITTA NGACO ABIS! Aaahh... Kenapa dia harus ngomong gitu sih tadi? Aku jadi gak konsen ngapa-ngapain. Udah jam 01.24 WIB, dan aku bahkan belum bisa tidur sedetik pun dari sejak pulang sekolah tadi. Sial! Kenapa nggak ada PR atau tugas apa kek buat besok? Daripada pusing mikirin omongan Litta tadi, kan bisa disalurkan dengan kegiatan yang yang lebih berguna! Apa mungkin Litta juga tahu kalau aku suka sama Dean? Dia sengaja ngomong gitu supaya aku gak perlu lagi menutup-nutupi perasaan sukaku, dan dia juga boleh mengeskpresikan rasa sukanya ke Dean tanpa rasa bersalah? Tapi gak mungkin! Gak sekalipun aku meninggalkan jejak-jejak kalau aku suka sama Dean! Lagipula, aku sudah menyukai Dean semenjak masuk ke SMA ini. Dan kalau Litta tahu, dia seharusnya sudah membesar-besarkan masalah ini dari awal. Ya, tahu maksudku kan? Kalian pasti juga tahu apa yang sahabat kalian akan lakukan saat tahu teman kalian menyukai seseorang. Lagipula, kenapa Litta harus sengaja suka ke orang yang aku suka lebih dulu? Meskipun kadang di memang keras kepala dan egois, dia bukanlah orang yang seperti itu. Aku tahu bagaimana sifat loyalnya kepada sahabat. Aku memang memulai persahabatan dengannya saat kami SMP dulu, dimulai dari Litta sebagai teman sebangkuku, tapi dia sudah sering sekali berkorban untukku. Bahkan saat itu, dia pernah sengaja tidak mengumpulkan PRnya, karena aku juga tidak bawa PRku. Dan saat itu, hanya aku saja yang tidak mengumpulkannya. Untuk menemaniku dihukum, dia rela nama baiknya ikut tercoreng dan mengerjakan tugas tambahan. Ya, Litta memang terkadang suka melakukan hal-hal yang ekstrim seperti itu. Mengerti, kan? Pengorbanan dan loyalitas Litta sangat besar. Kenapa aku harus berburuk sangka padanya?
Tapi sekarang bagaimana? Apa aku harus mengakuinya? Toh Litta sepertinya tidak keberatan kalau aku juka menyukai Dean. Aku juga bukannya ikut-ikutan. Aku punya bukti kalau rasa sukaku ke Dean sudah ada semenjak kami masuk ke SMA ini. Tapi, aku akan ketahuan telah menyimpan rahasia yang cukup besar darinya. Bahkan kebiasaan anehku yang mengumpulkan foto-foto Dean dan merangkainya. Aku menatap nanar kumpulan-kumpulan foto itu, yang sebagian besar sedang tersenyum manis menatapku. "Dean, aku harus bagaimana?"
to be continued...
Komentar
Posting Komentar