Cermis: SQUARE BLACK HOLE AT THE TOILET

“Cleo, ayo bangun sayang. Kita tidak mau terlambat mengunjungi Oma dan Opa di Kashima, kan?” seruku pada putri bungsuku, Cleopatra Dane. Dia membuka matanya dan merasa silau dengan cahaya matahari pagi yang masuk menembus kamarnya. “Di mana Papa dan Kak Rey?” tanyanya. “Mereka sudah di bawah menunggumu,” jawabku dan meninggalkan kamar  Cleo untuk ke bawah menyiapkan segala sesuatu.
Jam dinding masih menunjukkan pukul 06.00 saat aku, suami, dan anak-anakku harus duduk di meja makan. Hari ini, meskipun masih mengantuk, aku bisa melihat rasa senang yang mereka rasakan. Mengunjungi orangtuaku di Kashima adalah saat pertama bagi mereka. Dan kami harus bergegas meninggalkan rumah untuk ke stasiun kereta Coroner dan pergi ke Kashima.
“Raymond Dane, habiskan dulu makananmu baru bisa meletakkannya ke tempat cuci dan memainkan ponselmu,” seruku pada putra pertamaku. Aku memang memanggil mereka dengan nama yang formal begitu memang kalau mereka memancingku untuk kesal. “Iya Ma,” ujarnya patuh dan duduk kembali. Aku bisa tahu rasa senang dan buru-buru yang mereka rasakan. Tapi, aku memang sangat protektiv terhadap makanan dan kebiasan mereka.
Kami sudah memanggil taksi dan sekarang sudah berada di dalamnya untuk ke stasiun. “Akankah ini menjadi perjalanan panjang, Ma?” tanya Cleo yang serba ingin tahu itu. “Perjalanan panjang tidak akan terasa kalau kau menikmatinya, sayang,” jawabku. Dia mengangguk mengerti dan tersenyum memandang jendela, berusaha untuk menikmatinya. Sedangkan Ray, dia masih sibuk dengan telepon genggamnya.
“Terima kasih,” ujar Bernard Dane, suamiku pada supir taksi itu saat kami sudah sampai di stasiun kereta. “Aku baru pertama kali akan menaiki kereta,” ujar Cleo berseri padaku. Gadis kecil berusia 7 tahun itu tetap menggandengku selama kami berjalan di keramaian stasiun. Dia tidak terbiasa dengan tempat seramai ini. “Jangan lepas tanganku ya, Ma,” ujar Cleo. Aku tersenyum dan mengangguk.
“Penakut!” ejek Ray pada Cleo saat itu. “Maksud kakak apa?” lawan Cleo sengit. “Aku sudah 2 kali ke stasiun dan aku tidak pernah setakut kau,” ejek Ray. Saat itu aku sama sekali tidak memedulikan mereka karena bawaan kami cukup banyak dan aku terus berkonsentrasi untuk menuntun mereka ke pintu masuk. Aku sadar kalau saat itu Cleo sedang dipancing emosinya oleh Ray. “Cleo, jangan pasang muka begitu. Kau tidak mau Oma menyangka kau tidak suka ke rumahnya, kan?” ujarku menenangkan Cleo.
Tapi, itu sepertinya tidak berhasil. Sampai akhirnya aku benar-benar lengah, Cleo hilang dari genggamanku entah sejak kapan. “Cleo!” ujarku panik. “Ada apa?” tanya suamiku. “Cleo, Bern,” jawabku panik. “Tunggu di sini dan jaga Ray. Aku akan mencari Cleo segera,” ujarnya seraya melepaskan genggamannya pada Ray. Aku lihat wajah bersalah pada Ray. Rasanya tidak mungkin lagi untukku marah.
“Cleo akan segera ditemukan. Tenang saja,” ujarku tenang pada Ray. Aku lalu memasangkan sebuah gelang benang padanya. “Apa ini?” tanyanya. Aku sadar dengan perbuatanku. Entahlah. Aku pun tidak tahu apa yang aku lakukan. “Pakai saja ya, Ray. Sebagai tanda kamu anak Mama. Kalau kau hilang, akan langsung ketahuan kalau ada anak kecil memakai gelang ini. Jadi, Mama dan Papa cukup mencari anak dengan gelang itu saja, kan?” ujarku ngawur.
Beberapa menit setelah itu, suamiku menggendong Cleo dan menghampiri kami. “Cleo!” ujarku histeris dan senang. Wajahnya terlihat bingung. “Ada apa sih? Kenapa secemas itu?” aku tidak memedulikan pertanyaannya dan langsung memeluknya. Ada yang aneh. Di lehernya ada sebuah kalung. “Kalung ini dari mana, Cleo?” tanyaku penasaran. “Mama yang membelikannya kan?” dia balik tanya. Benarkah? Aku lupa.
Akhirnya kami menemukan kursi kosong di stasiun itu untuk menunggu. Lelah juga membawa anak-anak kecil ke stasiun. Ray yang masih duduk di kelas 3 SD itu sudah sibuk lagi dengan handphone nya. Bern masih mengecek barang-barang dan sesekali melihat jam. “Sepertinya kita datang terlalu cepat, Kate,” ujar Bern padaku. Aku hanya tersenyum saja. “Berapa lama lagi?” tanyaku. “Masih 40 menit lagi,” jawabnya dan kami tertawa bersama. Lucu sekali menunggu di tempat ramai ini 40 menit lagi.
“Aku ke toilet dulu ya. Jaga anak-anak,” pamitku pada Bernard. Saat dia mengangguk, Cleo merengek ikut. “Tidak kebelet tapi mau ke toilet. Kau ini!” ujar Ray. “Aku cuma mau tahu. Toilet stasiun itu seperti apa. Tidak masalah, kan?” bantah Cleo. “Baiklah. Cleo ikut Mama saja. Okay?” Bernard menengahi. Benar juga. Daripada Ray harus bertengkar lagi dengan Cleo.
Keingintahuan Cleo memang sangat besar. Hingga aku selesai dari toilet, dia masih saja menyelidiki setiap toilet yang ada. “Sedang apa, sayang?” tanyaku yang sedang merapikan rambutku di depan kaca washtafel. “Lihat! Lihat! Ada persegi hitam!” ujar Cleo. “Apa?” tanyaku heran. “Di mana?” tanyaku lagi. “Tepat di belakang Mama,” jawabnya.
Aku merinding mendengar Cleo. “Ayo masuk, Ma. Aku mau tahu!” ujarnya dan langsung melangkah dan menghilang. “Cleo!” ujarku panik dan mengikutinya.
Tin… Tin… Suara itu mengejutkanku dan aku terbangun. Entah apa yang terjadi, yang jelas aku sudah berada dalam mobil bersama Bern, Ray, dan Cleo. Juga seorang supir. Aku melihat keluar jendela dan, Kashima! Kami sudah di Kashima dan menuju rumah orangtuaku. “Sudah bangun, sayang?” tanya Bernard. “Iya,” jawabku. Agak aneh. Bern tidak pernah memanggilku sayang kalau di depan anak-anak. Dan Ray, dia tidak memainkan handphone nya.
“Mama benar,” ujar Cleo. “Kalau dinikmati akan terasa cepat. Lihat? Kata Papa, kita sudah di Kashima,” ujarnya. Kalung aneh itu masih melekat di lehernya. Dan aku langsung memeluknya. Entah apa, sepertinya tadi aku kehilangannya. “Ada apa, Ma?” tanyanya. “Tidak. Cleo, itu kalung dari siapa?” tanyaku lagi. Tidak mungkin aku lupa kalau memberikan kalung pada Cleo. “Mama yang memberikannya padaku. Apa mama tidak ingat?” tanyanya. Meski dari suaranya aku mendngar sedikit keraguan juga. Seperti, dia ingin aku memastikan hal itu. Tapi, sudahlah. Aku mengabaikannya. Mungkin memang aku saja yang sudah mulai menjadi pelupa sekarang.
Untuk kedua kalinya, aku tidak tahu bagaimana dan sudah berdiri di dalam rumah. Semua seakan mematung hingga akhirnya aku sadar dan semua bergerak. “Kate sayang,” ujar Mamaku dan memelukku senang. Aku membalasnya, dan perasaan aneh itu hilang. “Oma akan membuatkan sup caramel kesukaanku,” ujar Ray. Sup caramel? Bagaimana mamaku bisa tahu kalau Ray suka sup caramel? Ini kan pertemuan pertama mereka.
“Tadi Ray mengatakan itu, sayang. Jangan heran begitu,” ujar Bern. Aku hanya tersenyum. “Mau melihat kamar Mama? Waktu kecil kamar Mama di atas sana. Lebih baik kita letakkan barang-barang di sana,” ujarku dan kami berenam naik ke atas. Aku memandangi kursi santai yang seperti sofa atau kasur kecil itu yang berada di dekat jendela. Dulu aku sering duduk, bahkan sampai tidur di sana seraya menatap ke bawah. Biasanya banyak inspirasi setelah itu. Kemudian aku masuk ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka.
Aku mendengar pintu yang dibuka dan mereka turun ke bawah. Aku ditinggal, pikirku. Dan saat keluar. “AAAAAAARRRRRRRRGGGGGGGGHHHHHHH” jeritku tak tertahankan. Aku melihat Cleo kecilku berada di sofa itu dan di sandarkan ke dinding dan arah kepalanya melihat ke jendela, persis seperti posisiku dulu. Dan di lehernya terlihat sayatan dan lehernya bersimbahkan darah yang sangat banyak. Aku terkejut dan turun ke bawah seperti mau mati.
“Ada apa?” tanya Mamaku melihat aku yang ketakutan. “Di atas… Cleo… Darah...” aku menangis sejadi-jadinya. Sret Bern tiba-tiba menarik tubuhku dan menodongkan pisau ke leherku. Aku kaget setengah mati.  “Aku bukan suamimu dan aku akan membunuhmu seperti aku membunuh Cleo,” ujarnya. Aku terkejut bukan main. Tapi orangtuaku tidak terkejut dan terlihat seperti menggelengkan kepala. Meski hanya kecil, aku bisa melihat gelengan kepala mereka.
“Ping pong,” ujar Bern dan melepaskanku. Wajahku sudah pucat pasi dan menjauh darinya. “Happy birthday, Kate,” ujar Mama dan Papa ku. Apa? “Lalu, Cleo?” tanyaku gusar. “Mama mencariku?” tanya Cleo dengan polosnya. “Ini cat, Ma,” ujarnya dan menghapus noda merah di lehernya itu. “Hah?” aku terkejut bukan main. “Tapi, ini kan tanggal 7 Juni. Ulangtahunku tanggal 7 Juli,” ujarku. “Benarkah? Coba lihat kalender. Bulan apa sekarang?” ujar Papa. Juli! Benar, ini bulan Juli. Apa ini? Kepalaku pusing.
“Aku akan ke atas sebentar mengambil handphone ku,” seruku dan langsung bergegas ke atas. Wajah mereka terlihat aneh saat itu. Krriieet… astaga Cleo masih di sana! Cleo yang bersimbah darah dengan guratan pisau di lehernya masih di sana. Aku ingin menangis. Aku tak tahu sudah terjebak entah di dunia mana. Hingga aku sadar kalau tadi aku sedang bersama Cleo di toilet dan ikut masuk bersamanya ke dalam lubang persegi hitam itu. Aku langsung mengambil handphone ku. Ada sms masuk. Dari Bernard yang isinya, Lama sekali! Sudah 30 menit kami menunggu. 10 menit lagi kereta datang. Cepatlah!
Tiga puluh menit? Tidak mungkin secepat itu naik kereta dari Coroner ke Kashima. Aku yakin ini bukan duniaku. Aku memeluk Cleo dan turun ke bawah untuk memastikan beberapa hal. “Pisau?” tanyaku terkejut dibuat-buat saat melihat Bern palsu menggenggam pisau. “Aah tidak, ini untuk memotong ayam tadi,” jawabnya dan aku duduk di meja makan. Sup caramel tidak secepat ini dibuat. Tapi di atas meja makan sudah ada sup ini.
Bern juga mencurigakan. Dia memanggilku sayang di depan anak-anak yang biasanya tidak pernah dia lakukan. Ray juga. Dia yang biasanya tidak pernah lepas dari handphone nya, kini tdak terlihat memakai handphonenya. Lagi pula, gelangnya tidak ada! Dan kalung aneh itu juga tidak ada di leher Cleo! Astaga! Ini dunia sihir entah apa, yang jelas mereka ini setan yang sedang menyamar. Aku harus membawa Cleo pulang.
“Ray, kalau Mama boleh tahu, tadi kita masuk lewat pintu depan atau samping?” bisikku. “Depan,” jawabnya. Aku sudah tahu kalau anak ini teledor. Sangat berbeda dengan Ray-ku. Bern palsu melirik kami sengit. Aku sangat ketakutan. Belum lagi, dia masih memegang pisau itu. Aku memikirkan cara hingga aku ingat satu hal. Jika mereka meniru segala sesuatu yang kupersiapkan semalam, berarti ada bubuk bawang putih di koperku. Setidaknya yang ku tahu, bawang putih bisa melumpuhkan setan.
“Sebentar ya, aku mau mengambil sesuatu untuk Mama. Ada di koperku,” uajrku dan langsung bergegas naik. Bern terlihat mau menghentikanku. Mungkin dia tidak ingin ceroboh menganggapku sudah tahu. Aku langsung menggendong Cleo dan beruntung, bubuk itu ada. Aku membuka bungkusnya dan keluar kamar. Di tangga, aku bertemu Bern. “Mau apa kau!?” bentakku dan dia sudah siap menikamku. Bress Aku melemparkan bubuk itu dan dia jatuh pingsan.
Aku terus berlari dan melemparkan lagi bubuk-bubuk itu ke Ray dan Papa palsu ku. Sebenarnya aku tidak tahan melihat mereka harus menggelepar. Mereka tetap saja terlihat seperti Papa dan anakku. Aku menangis sejadinya dan berlari ke pintu depan. Aku bisa melihat persegi hitam itu di luar. “Tahan, Kate,” ujar wanita yang menyerupai Mamaku itu. “Kalau kau menyemburku dengan bubuk itu dan aku mati, Mama mu juga akan mati di sana,” ujarnya dan menahan pintu keluar. Apa? Berarti aku sudah membunuh suami, anak, dan papaku?
“Bohong! Tidak mungkin!” seruku. “Bunuh saja aku kalau kau mau,” ujarnya. Drrt… Drrt… Itu telepon dari Bern, dan aku tahu mereka masih hidup. Tidak ada alasan untuk tidak membunuh wanita itu. Sadar akan telepon itu, wanita itu terlihat berang. “Mamaku tidak mungkin mati karena wanita sepertimu!” uajrku dan melemparkan lagi bubuk itu tepat ke wajahnya.
Aku membuka pintu dan melompat masuk ke dalam lubang persegi hitam itu. Srrt Aku sudah berada di depan kaca toilet lagi. Aku menangis sejadinya sambil memeluk jasad putriku. Di luar sangat berisik sehingga suaraku tidak terdengar. Tiba-tiba, bubuk bawang putih itu hilang. Dan aku semakin terkejut melihat darah dan luka putriku hilang. Dia sadar dan terbatuk. “Ada apa, Ma?” tanyanya.
Tangisku semakin hebat. Kali ini tangis bahagia karena mendapatkan putriku kembali. Aku tahu alasan mereka tidak mengejarku ke sini, karena segala hal yang terjadi dan yang ada dari sana, akan hilang begitu sampai di sini. Kalung aneh yang dipakai putriku itu bercahaya. “Ceritakan sayang, kapan Mama membelikannya untukmu?” jawabku di sela senggukan tangisku
 “Tadi, sebelum Papa menggendong Cleo saat di luar tadi. Makanya, Cleo juga bingung kenapa Papa begitu khawatir dan menggendong Cleo. Mama juga langsung hilang saat itu,” jawabnya. Kini aku mengerti. Pasti ada seorang malaikat yang mengetahui hal ini dan sengaja berubah sepertiku dan memakaikan kalung ini pada Cleo sebagai tanda. Dan mungkin, dia juga yang membisikkan ku untuk memakaikan gelang pada Ray.
“Oh ya, kenapa kita masih di toilet?” tanya Cleo. Syukurlah dia tidak mengingat kejadian pahit itu. Lubang persegi hitam itu tertutup. Dan aku mendengar sebuah bisikan di telingaku, “Terimakasih telah menutup lubang itu dengan mengalahkan mereka, maaf Cleo harus ikut terlibat,” Aku terkejut dan tersadar saat Cleo menarik tanganku keluar. Aku tersenyum. Tadi, pasti wanita yang sama yang memberikan Cleo kalung itu. Aku juga berterima kasih. Karena dengan kejadian ini, aku jadi lebih bisa mengetahui kebiasaan keluarga kecilku ini.

THE END


Komentar

Postingan Populer